OLEH : HANDRI PUTRAWAN
Apa ? mengapa ? bagaimana ? serangkaian pertanyaan yang bisa saja terucap atau hanya pertanyaan yang terpendam dalam hati saja, ketika keingintahuan kita sebagai manusia sudah terjamah,
rasa ingin tahu itu sudah tertanam sebagai potensi dalam diri kita sebagai manusia atau istilah lainnya “Rasa ingin tahu itu adalah Fitrah kita sebagai manusia”, maka Rasa, Asa, dan Cipta akan mencari jalan untuk mencapai pengetahuan itu, hingga pertanyaan yang timbul setelah itu “Ada apakah di balik itu?”, tentu saja setiap pertanyaan itu ada jawabannya entah itu sekedar untuk menekan rasa tidak puas dalam diri atau hanya sekedar berspekulasi untuk memuaskan rasa ingin tahu itu.Pada tahapan-tahapan selanjutnya akan
menentukan sebuah cara atau metode untuk mencari tahu akan sebuah jawaban dari
sebuah pertanyaan yang timbul karena rasa ingin tahu itu, entah itu metode yang
sudah divalidkan oleh orang banyak atau hanya sekedar metode yang kita dapatkan
dari dalam diri sendiri yang tumbuh dari berfikir dengan benar atau
berfilsafat, aneh saja ketika filsafat merupakan hasil berfikir juga, karena
filsafat itu ilmu yang mempelajari cara berfikir dengan benar, sedangkan
sebelum filsafat ada sebagai sebuah ilmu orang sudah berfikir jauh sebelumnya,
jadi sebelum filsafat hadir orang sudah berfikir, namun apakah ketika sebelum
filsafat itu ada, berfikirnya orang dahulu tidaklah disebut berfilsafat
disebabkan belum mempelajari ilmu filsafat yang nota benenya sebagai ilmu yang
mempelajari cara berfikir benar, jadi pertanyaannya apakah hasil berfikir orang
dahulu kala sebelum filsafat lahir adalah fikiran yang ngawur?.
Melihat dan mencari sesuatu di balik
sesuatu atau yang biasa disebut ilmu Metafisika, melihat fisik sesuatu masih
disebut Fisika, dan melihat yang dibalik sesuatu yang fisik disebut dengan
Metafisika, tentu saja fisika dan metafisika selalu tergantung subyeknya, yang
mana setiap orang memiliki pandangan tersendiri tentang sesuatu, namun sekarang
sudah berkembang ilmu-ilmu yang mempelajari tentang tata cara penelitian yang
sudah diakui oleh seluruh dunia, jadi ilmu tentang penelitian sudah
dikembangkan di seluruh dunia dan menjadi standar suatu kebenaran hasil sebuah
penelitian dan hasil fikiran, dengan demikian hasil dari penelitian dan
pemikiran seseorang tidak serta merta dianggap benar akan tetapi harus melalui
uji publik dengan standar nasional dan yang lebih luas lagi standar
internasional.
“di balik sesuatu ada sesuatu”, kata-kata
yang penuh dengan teka-teki, bentuk fisik dan sesuatu yang ada di balik yang
fisik, ada obyek dan sesuatu di balik obyek, apakah yang kosong tanpa mempunyai
obyek itu ada?, berarti tidak ada yang tidak obyektif, berfikir tentunya
memiliki obyek yang difikirkan, mencintai juga harus memiliki obyek yaitu yang
dicintai, dengan demikian sesuatu itu mempunyai sesuatu yang dituju, dalam
islam ada alurnya yaitu; Niat dan Arah niat itu(obyeknya/pekerjaannya).
Menentukan sesuatu di balik sesuatu lebih
banyak segi subyektifnya sesuai dengan pandangan individu masing-masing,
sehingga orang cenderung menonjolkan sesuatu yang mengenai diri tiap individu,
bisa kita menyebutnya dengan setiap orang ingin diakui keberadaanya
(Eksistensinya), itulah ciri unik dari kebudayaan kita sebagai manusia yang
dibangun dengan material dan pemikiran (ideologi), jadi kebudayaan manusia itu
ada dua Benda dan Ideologi, benda sama dengan fisik dan Ideologi sama dengan
Metafisik, kita ada dan ingin mengada.
“Dimanakah letak keindahan?”, “apakah di
mata orang yang memandang?” atau keindahan itu sebatas lima indra kita sebagai
manusia ?, lantas jika kita tidak memiliki lima indra itu masihkah sesuatu itu
disebut indah?. Jawab saja “Entahlah” jika mengacu pada berbagai kaca mata
milik manusia, tentu saja kaca mata milik kita sebagai manusia terbatas dan
subyektif sesuai dengan potensi yang ada pada diri kita masing-masing, jadi
sikap kita pada sesama adalah saling menghormati kaca mata milik masing-masing
individu, karena kebenaran hakiki adalah Tuhan (Allah SWT), jadi kita sebagai
manusia tidak ada yang namanya agen tunggal kebenaran di atas bumi.
“Atas itu bawah dan bawah itu atas”
keberadaan adalah tergantung posisi di bumi karena kita berada di permukaan
bumi dan bumi itu bulat seperti bola dan ada yang bilang elip seperti telur,
dulu juga ada yang bilang bumi datar dan sekarang lagi trend penganut bumi
datar dan semuanya mempunyai argument-argument yang menguatkan pendapat
masing-masing, namun semua pendapat itu bersepakat mereka berada di permukaan
bumi dan mereka selalu berkata “ini di atas bumi” walaupun sedang di bawah
karena bumi itu bulat. Bagaimana dengan yang bumi datar? Manakah bawahnya? Kalo
datar apakah bumi itu seperti piring? Apakah yang di bawah dataran itu bumi
bagian bawah? Entahlah, Wallahu A’lam Bissawwab.
“Cinta itu seperti berbicara tentang tepi
pantai”, sesuai posisi setiap orang dan memiliki tepi pantai sendiri dan
memiliki kondisi tepi pantainya masing-masing. Sesuai rasa pada diri masing-masing
individu walaupun obyeknya sama, karena kita sebagai manusia sudah
dianugerahkan potensi diri masing-masing oleh Allah SWT sebagai Maha Pengatur
Yang Adil, Sunnatullah itu tidak akan pernah meleset menuju sasarannya, Maha
benar Allah SWT dalam segala hal, Maha Suci Allah SWT dari sifat-sifat yang
jelek, Allah tempat bergantungnya segala sesuatu.
Sedang mencari jati diri sebagai manusia,
sudah jelas kita sebagai manusia hanyalah Jasad dan Ruh, gabungan jasad dan ruh
ada yang menyebutnya jiwa. Jasad cenderungnya ke arah kegelapan dan Ruh
cenderungnya ke arah cahaya. Ruh bertanggungjawab membimbing Jasad kepada jalan
kebaikan, sehingga jika salah jalan yang mendapatkan hukuman adalah Ruh dan
Jasad sebagai kesatuan yang berbuat. Ruh dan Jasad akan diminta
pertanggungjawabannya kelak di hari Kiamat ketika Yaumul Hisab, semoga kita
mendapatkan Syafa’at dari Nabi Besar Nabi Muhammad SAW kelak di Yaumul Hisab
Amin Ya Rabbal Alamin.
Allah SWT memberikan dua jalan, dan manusia dibebaskan untuk memilih dua jalan tersebut sesuai dengan kehendak mereka sendiri, ini berarti Allah SWT telah menganugerahkan kepada manusia potensi-potensi agar dapat memilih dua jalan itu, dan Allah SWT telah menurunkan Al-Kitab sebagai petunjuk dalam memilih jalan itu, kita ummat Islam ada Al-Qur’an dan Al-Hadits sebagai pedoman dalam menentukan pilihan kepada dua jalan tersebut, apakah anda akan memilih jalan kebenaran atau jalan kesesatan?, manusia memiliki kebebasan dalam memilih dan Allah SWT telah menurunkan petunjukNya.
Kosong itu isi, isi itu kosong, jika kosong yang dimaksud adalah ketiadaan, ketiadaan itu merupakan tidak adanya sesuatu materi sama sekali, bisa saja kita mengatakan ketiadaan itu juga sesuatu yang kita sebut suatu keadaan atau lebih persisnya “Ketiadaan itu adalah suatu keadaan, yaitu ketidakadaan materi sama sekali”
Ditulis oleh: Blogger All By Share
Rating Blog 5 dari 5

0 Komentar
Silahkan Beri Komentar Anda 🙏🙏🙏