(Oleh : HANDRI PUTRAWAN, S.Pd.I)
Bila suatu keinginan akan tertuju maka jalan pun akan merekahkan dirinya membuka jejak unuk mengawalinya dengan penuh rasa Syukur dan percaya diri dan tak lupa berpasrah diri kepada Sang Pembuka Jalan yaitu; Allah SWT, terbentang dengan penuh hikmah yang susupkan sebagai bagian yang terberkati dengan nuansa penuh keserasian tanpa mengenal batas pada pendar pendar keberadaan visual yang terindera oleh mata, namun lebih dari itu, karena dibalik semua itu sesuatu yang memiliki kesempurnaan tertuju.
Tiap hari semuanya terpaut pada kebesaran Sang Maha Pemberi Anugerah, Allah SWT yang Maha Sempurna AnugerahNya, menjejakkan anugerah melimpah melampaui segala hal baik yang terhubung maupun yang tidak terhubung, menapak menjadi jalan yang terberkati dengan riuh rendah dawai bernuansa Ilahi dalam wujud yang Nampak oleh mata Zahir, mereka senantiasa berzikir tanpa akhir.
Kisah bermula di sisi tepian jejak pejuang sejati dalam mendapatkan anugerah Sang Ilahi, suasana pagi begitu asri ketika sang Mentari sudah mulai menampakkan diri di ujung langit timur dan mulai menyinari bumi yang semalam gelap yang menyelimuti desa yang asri di bawah kaki gunung rinjani, nampaknya pagi sangat cerah dengan angin angin semilir sepoi sepoi menambah sejuknya suasana ditambah dengan kicauan burung burung saling bersahutan menunjukkan bahwa pagi itu sangat indah dan penuh keasrian.
Pagi itu dengan ditemani secangkir kopi nan hangat sehangat suasana yang mulai menyelimuti bumi yang perlahan lahan merayap menembus celah celah perumahan penduduk yang kala itu sibuk dengan kegiatan mereka masing masing untuk mempersiapkan sarapan guna menyongsong pekerjaan mereka yang masih tertunda sejak kemarin, memang kehidupan itu adalah untuk bekerja dan merasakan kelelahan, namun nampaknya para penduduk desa itu sangat menikmati kehidupan mereka, mereka menjalankan aktifitas sehari hari mereka dengan penuh suka cita tanpa mengeluh sedikitpun, keikhlasan adalah kunci kebahagian dalam menjalani perjalanan hidup yang penuh dengan lika liku yang tidak terduga, seperti itulah yang terlihat dalam menjalankan kehidupan mereka.
Di desa yang indah dan asri itu hiduplah sebuah keluarga yang sederhana dengan pasiltas apa adanya, namun begitu mereka nampaknya mereka menikmati apa adanya itu dengan penuh Syukur dan selalu Bahagia dengan apa yang Allah SWT anugerahkan kepada mereka, keramah tamahan mereka tidak pernah surut pada penduduk tempat tinggal mereka, selalu membantu para penduduk yang membutuhkan bantuan, mengajari para penduduk yang meminta untuk diajarkan suatu pengetahuan tanpa memandang status apapun, mereka berharap pada ridho Allah SWT semata.
Rumah yang ditempati keluarga itu sangatlah sederhana hanya berlantaikan semen yang diperhalus, dinding tembok putih tanpa cat yang menggoreskan warna warni tidak nampak pula, pintu dan jendela hanyalah terbuat dari bahan kayu yang terbungkus tariplek, perabotan tidaklah begitu mewah cukup ada ranjang yang digelar kasur dan bantal kapuk, perabotan dapur hanya sekedarnya saja cukup ada piring, gelas, ceret, tempat nasi dan beberapa peralatan dapur yang umum dibutuhkan, memang keluarga yang jauh dari kesan hidup bermewah mewahan sekalipun kepala keluarga mereka berstatus pegawai negeri.
Di rumah keluarga itu di pagi yang asri, indah, dan cerah itu sedang berlangsung kegiatan yang sama dengan penduduk desa yang lain, mempersiapkan sarapan sebelum melakukan pekerjaan yang utama, diantara keluarga itu yang tinggal adalah seorang Bapak yang berumur kira kira lima puluh tahun dengan postur tubuh yang biasa biasa saja, tidak gemuk tidak terlalu kurus, sepertinya beliau adalah kepala keluarga itu, nama beliau adalah “Sal Limdaiman Abada” yang dipanggil sehari hari oleh penduduk desa dengan nama “Guru Salim”, beliau orang yang berpendidikan pada kala itu masih sangat jarang orang yang berpendidikan di desa itu ini terlihat dari panggilan penduduk desa yang menyebut beliau itu Guru.
Di keluarga itu ada sosok seorang Wanita yang umurnya kurang lebih empat puluh delapan tahun lebih muda dua tahun dari si bapak, sepertinya beliau adalah istrinya yang selalu mendampingi si bapak semenjak mereka menikah, pekerjaannya adalah menjadi seorang ibu rumah tangga yang mengurus seabrek keperluan rumah tangga dan kebutuhan keluarga yang lain, penampilan beliau amatlah sederhana seperti Perempuan desa pada umumnya pakai kain, baju lengan Panjang dan kerudung di kepala yang menunjukkan Perempuan Muslimah yang tinggal di desa pada kala itu. Nama beliau adalah “Sehnan” yang dipanggali “Senan” oleh para penduduk desa.
Pasangan suami isteri tersebut memiliki delapan orang anak dari hasil pernikahan mereka, yang uniknya dari sekian anak anaknya itu hanya satu yang Perempuan sisanya yang tujuh itu laki laki semua, anak pertama adalah laki laki yang Bernama “Syeikhmara” dan biasa dipanggil “Sasmara”, yang kedua juga seorang putra yang Bernama “Hendri Putra” tapi dipanggil “Handri” entah apa yang menyebabkannya dipanggil begitu, yang ketiganya Bernama “Gugusyeikh” biasa dipanggil “Gugus” dari nama ini sudah mengerti bahwa anak pertama sampai yang ketiga laki laki semua jadi terjadilah gugusan anak laki laki yang berurutan. Anak yang keempat ternyata laki laki juga, akhirnya si bapak Tulus menerima bahwa anak anaknya sampai empat orang adalah laki laki, akhirnya diberinama “Tulus Setia” dan dipanggil “Tulus” saja.
Kala itu terjadi angin yang menghebohkan Kawasan benua asia, berita tentang adanya angin dan badai yang memporak porandakan asia pada masa itu tersebar melalui berita yang ditayangkan di Televisi pada saat itu masih dengan layar hitam putihnya, berita itu sampai juga di desa tersebut melalui siaran TV dan Radio pemerintah saat itu, dampak badai sangat dirasakan oleh negara negara asia sehingga memberikan efek pada keadaan ekonomi negara negara asia yang merayap sampai ke desa desa yang berada di negara Indonesia sebagai bagian dari asia, kala itu sang Bapak dan sang isteri sedang menantikan kelahiran buah hati mereka, hingga saat kelahiran anak kelima mereka juga seorng laki laki diberi nama “Topan Asia” sebagai bentuk pengingat untuk kejadian angin topan yang telah menimpa negara negara asia.
Tentu saja orang orang akan berharap bahwa dengan memberikan nama yang baik dan bagus buat anak anak mereka tidak lain tujuannya adalah agar mereka memilki kehidupan yang baik dalam Ridho Allah SWT, mampu membawa nama baik orang tua di depan Masyarakat, memberikan manfaat bagi Masyarakat sekitarnya, pada saat anak keenam pasangan suami isteri tersebut memberi nama anak mereka dengan “Tugu Prasas” dia adalah seorang anak laki laki yang pintar mendapatkan beasiswa dalam perjalanan pendidikannya.
Ini yang paling unik, yang ditunggu tunggu akhirnya kesampaian yaitu; memiliki anak Perempuan yang cantik dan paling cantik diantara saudara suadaranya, anak Perempuan satu satunya yang dimiliki oleh delapan bersaudara tersebut, satu satunya bidadari yang mereka miliki selain ibu mereka, anak Perempuan dengan urutan yang ketujuh, terbukti bahwa do’a dan harapan yang Ikhlas hanya untuk Allah SWT akan dikabulkan oleh Sang Maha Pengabul segala keinginan hambanya, sang Putri pun diberi nama “Cita Impiani”, yang berarti putri yang dicitacitakan dan diimpikan sudah lahir.
Ketika masa sudah berlanjut maka umur juga telah berlanjut mengikuti masanya, dan keadaan pun turut berubah pada kehidupan kita sebagai manusia dengan segala kekurangannya, hal itu pun yang terjadi pada diri setiap manusia yang semulanya penuh enerjik seiring waktu akan berubah dengan kelemahan kelemahan dan kelelahan yang menimpa diri kita, hingga akhirnya pada kelahiran anak ke delapan dari pasangan suami isteri itu diberilah nama sebagai ungkapan yang terpendam namun terungkap dari sebuah nama “Wikan Nihayat” yang maksud si pemberi nama adalah anakku yang terakhir yang dilahirkan oleh ibunya.
Perjalanan hidup siapalah yang tahu kecuali Yang Maha Tahu yaitu Allah SWT, setiap perjalanan adalah hikmah yang harus diambil untuk menjadi Pelajaran (Ibrah) bagi semua kita yang hidup di dunia, keinginan tidak lebih adalah fatamorgana yang tergambar dalam pikiran kita sebagai manusia karena yang kekal adalah Zat Allah SWT Yang Maha Pengatur atas segala perjalanan di alam semesta, dalam ketentuan Allah SWT telah menetapkan dua jalan yang mesti dipilih salah satunya oleh manusia dalam perjalanannya di dunia, dua jalan itu adalah Jalan yang Lurus dan Jalan yang Bengkok, maka dalam perjalanan hidup mesti pula kita pandai pandai menempatkan Allah SWT dalam rangkaian perjalanan kita sebagai manusia.
Dalam perjalanan hidup kita di dunia akan menemukan titik akhir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT, dalam potensi hidup kita sebagai manusia telah ditanamkan oleh Allah SWT potensi akhir dari hidup kita yang berupa potensi kematian, dan setiap yang hidup akan mengalami yang Namanya potensi kematian, maka ciptakanlah hidup kita penuh makna dengan potensi yang telah Allah SWT anugerahkan kepada kita untuk membentuk kehidupan yang Rahmatan Lil ‘Alamin, sehingga kita punya andil dalam menstabilkan kehidupan yang dirahmati oleh Allah SWT sebagai modal perjalanan selanjutnya untuk generasi yang akan datang.
Ditulis oleh: Blogger All By Share
Rating Blog 5 dari 5


0 تعليقات
Silahkan Beri Komentar Anda 🙏🙏🙏