Oleh : HANDRI PUTRAWAN
Dulu pada masa-masa masih bocah
cilik (bocil), pada masa-masa belajar di sekolah dan mengaji di santeren adalah
masa yang penuh dengan kenangan dan tentu saja penuh dengan inspirasi yang akan
selalu terpatri di hati hingga kini, ada hal-hal yang sangat berkesan dalam
tiap perjalanan pada waktu itu, sehingga bila diingat akan selalu menjadi
kenangan yang indah dan berkesan dengan berbagai macam kejadian yang akan
membentuk kita sebagai manusia yang akan selalu bersyukur dengan
kejadian-kejadian tersebut menjadi pengalaman yang membentuk kita menjadi
pribadi yang selalu teringat dengan orang-orang yang berjasa kepada kita,
sehingga kita tidak dicap sebagai “Kacang yang lupa pada kulitnya”. Setiap
moment adalah berharga karena akan menjadi sesuatu yang mempunyai andil dalam
membentuk karakter kita.
Banyak hal yang memungkinkan untuk menjadi sesuatu yang akan selalu kita ingat dan akan selalu berkesan sampai hari ini, tidak ada yang namanya kebetulan, sebab itu merupakan potensi-potensi yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita, baik potensi itu berasal dari diri kita maupun berasal dari luar diri kita, ada kalanya kita menyadari setiap moment potensi tersebut dan ada kalanya kita tidak menyadarinya sama sekali, tau-tau kita sudah mendapatkan apa yang kita inginkan, padahal keinginan kita tidak pernah lepas dengan potensi-poptensi di luar diri kita dan di dalam diri kita.
Setiap detik, setiap menit, setiap jam, bahkan satu hari penuh dengan potensi-potensi yang akan membentuk kita untuk menjadi manusia yang ideal (Muslim yang Ideal) sesuai dengan tuntutan agama islam, kita patut bersyukur sepanjang hayat pada nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT, setiap kita adalah pribadi yang unik dengan anugerah yang diberikan oleh Allah SWT kepada kita, maka marilah kita bersyukur dengan adanya orang-orang yang hebat diantara kita, karena dengan keberadaan mereka telah menjadi sumber insfiratif yang selalu memberikan pengaruh yang baik dalam perjalanan hidup kita.
Sebuah kisah akan mewakili apa yang kita sebut sebagai sarana pembentukan karakter manusia yang kita temukan, kita akan menemukan berbagai karakter manusia dalam kehidupan kita, mereka dibentuk dengan berbagai potensi dan kejadian dalam perjalanan hidup mereka, kemudian mereka juga akan mempengaruhi potensi yang ada pada diri kita, maka marilah kita belajar untuk bekal kita dalam memilah dan memilih setiap potensi yang akan turut serta dalam memberikan warna pada watak dan karakter kita, ada satu kata=kata Mutiara yang sekiranya patut kita indahkan “Jika kita ingin melihat yang akan datang maka lihatlah yang sekarang”, maksudnya adalah kejadian-kejadian yang akan datang tentu akan dipengaruhi oleh kejadian yang sekarang. Contoh yang paling sering berulang-ulang dan dapat ditentukan kejadian akan datangnya adalah peristiwa GERHANA.
Baiklah kita mulai kisahnya, bermula Ketika saya mau belajar ngaji, sebelumnya saya mengaji di Rumah dengan Bapak saya sebagai Gurunya Yaitu; Bapak SALIM KASTARY, A. Ma. Beliau adalah guru saya yang pertama sekaligus Bapak kandung saya, beliau membuka pengajian untuk anak-anak di rumah kebetulan beliau adalah guru negeri yang mengajarkan agama di Sekolah Dasar Negeri pada waktu itu, pada masa-masa awal mengaji hanya diajarkan huruf-huruf hijaiyah, kemudian ejaan-ejaan yang berhubungan dengan huruf-huruf hijaiyah, dilanjutkan dengan belajar membaca huruf-huruf sambung dari huruf-huruf hijaiyah. Pada masa itu mengaji di rumah guru adalah sarana yang paling efektif walaupun pada masa-masa itu sudah mulai berkembang mengaji di Musholla (Santeren).
Perkembangan selanjutnya adalah mulainya peringatan-peringatan hari-hari besar islam, banyak istilah yang digunakan dalam peringatan hari-hari besar islam namun yang paling umum dipakai kala itu adalah; Bubur Putek (Peringatan Maulid Nabi Muhmmad SAW), Bubur Abang (Peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW), Ruwah (Rowah, Menyambut Bulan Puasa) dan lain-lain sebagainya, peringatan hari-hari besar islam sudah mulai berkembang dengan pengadaan berbagai kegiatan yang mendahuluinya sebelum hari pelaksanaan peringatan hari besar islam, seperti lomba berwudlu, bacaan sholat, lomba azan, lomba seni baca Al-Qur’an, bahkan sampai permainan-permainan, seperti makan kerupuk yang digantung, menggunting makanan ringan yang digantung dengan mata tertutup, memukul periuk, bahkan mencari uang logam di tepung dengan kepala. Kemudian mulailah berkembang mengaji di Musholla/Santeren, dengan mulainya era mengaji di santeren maka masa mengaji di rumah guru sudah mulai dilupakan, begitu juga dengan saya sebagai seorang yang baru mulai belajar ngaji, akhirnya saya belajar mengaji di santeren yang pada waktu itu saya diserahkan ngaji di Santeren yang diasuh oleh Kakek saya yang Bernama “Ustadz SALIAH”, saya bukanlah angkatan pertama karena ada banyak alumni-alumni yang menjadi guru di santeren itu, di era itu sudah ada lomba-lomba yang diselenggarakan untuk memeriahkan peringatan hari-hari besar islam, belakangan nama santeren tersebut adalah santeren “AT-TAQWA”, santeren At-Taqwa sudah dikenal banyak kalangan baik di Desa Pringgasela sendiri maupun di luar desa, karena santeren At-Taqwa pada saat itu yang pertama kali menerapkan pembelajaran Bahasa Arab.
Dengan pembelajaran Bahasa Arab pada waktu itu menjadi daya tarik tersendiri bagi orang tua untuk menyerahkan anak-anaknya untuk mengaji di santeren itu, dari santeren At-Taqwa inilah pertama kali saya belajar Bahasa Arab, dan ilmu-ilmu agama yang lainnya, tujuan utamanya adalam mempersiapkan anak-anak yang akan masuk ke jenjang Madrasah Tsanawiyah, pada saat-saat itulah saya merasakan bahwa yang namanya ngaji di santeren itu seru juga, bagaimana tidak setiap akan dimlainya suatu peringatan hari besar islam santeren At-Taqwa selalu mempersiapkan santrinya agar bisa tampil maksimal dalam mengikuti lomba-lomba, termasuk saya yang pada saat itu selalu tampil dalam setiap mata lomba. Dalam setiap persiapan untuk menghadapi lomba selalu diadakan pengetesan kesiapan para santri oleh Al-Ustadz SALIAH, beliau selalu mengadakan tes buat santrinya dengan memberikan hadiah uang bagi siapa yang bisa menjawab suatu pertanyaan, alhasil saya selalu pulang bawa uang Rp 2.500 setiap hari karena saya selalu berhasil menjawab pertanyaan beliau, dalam setiap kesempatan jika ada tes kemampuan beliau selalu menggunakan pertanyaan yang sesuai dengan yang dipelajari di MI dan MTs, beliau selalu memisahkan saya dengan kelompok santri laki-laki, karena jika saya berada di tengah-tengah santri laki-laki maka santri Perempuan tidak akan pernah menang dalam menjawab setiap pertanyaan beliau, ini mirip degan cerdas cermat. Saya selalu didudukkan di dekat beliau jika beliu memulai tes kesiapan untuk cerdas cermat, beliau selalu bilang “PAPUNGKU SI SKEK ENE JA BEDA BARENG SI LAIN, NDEK KANGGO MILU, NA TOKOL-TOKOL LEQ DEKET KU”, maksudnya “CUCUKU YANG SATU INI BERBEDA DENGAN YANG LAIN, TIDAK USAH IKUT, DUDUK-DUDUK DI DEKAT SAYA SAJA”. Sekarang beliau sudah berpulang ke Rahmatullah Al-Fatihah buat beliau semoga amal ibadah beliau diterima di sisi Allah SWT Amin Ya Rabbal Alamin, terima kasih atas segala yang telah beliau berikan kepada saya semoga selalu bermanfaat baik buat diri saya pribadi maupun untuk orang lain.
Ditulis oleh: Blogger All By Share
Rating Blog 5 dari 5


0 تعليقات
Silahkan Beri Komentar Anda 🙏🙏🙏